Uncategorized

jika tesis saya berwujud manusia, saya pasti sudah memeluknya erat sambil meminta maaf karena telah menganaktirikannya. saya bayangkan, ia kerap menangis pilu di dalam folder yang sepi dan dingin seperti rumah pesakitan.

ia pasti iri melihat tumbuh kembang anak-anak lain yang kian subur dan matang setiap hari. ia iri betapa saya mencurahkan perhatian yang lebih pada kegiatan-kegiatan di organisasi tanpa merasa terbebani. tidak adil memang. saya akui.

nak, ibu minta maaf, ya. ibu janji akan mulai konsisten merawatmu, penuh cinta. kamu harus terus tumbuh,nak. ayo, mandi dan ganti baju dulu. dekil sekali. itu ingusnya diapus.

Advertisements
Uncategorized

bu haru, dosen pembimbing saya, minta literature review, theoritical framework, dan data2 penelitian yang sudah lengkap dikirim pada beliau paling lambat satu bulan sejak pertemuan pertama kami.

hari ini, sudah tepat satu bulan dan belum ada progres yang berarti. kadar kemalasan saya sedang lebih besar ketimbang motivasi untuk lulus tepat waktu.

saya lebih suka kumpul-kumpul organisasi atau melakukan apa saja selain berjibaku dengan tesis.

wajar sih. ada kalanya, kita bisa sangat produktif. pun ada kalanya, kita tak bisa melarikan diri dari rasa malas dan bosa.  itu sunnatullah. tinggal pandai2 bermanuver aja.

sejauh ini, yang saya rasakan, waktu bisa begitu berkah karena banyak membuka mushaf. berkah maksudnya bisa melakukan banyak hal yang bermanfaat sekalipun dalam waktu yang singkat. sangat produktif!

sekarang, saya sedang sangat futur. waktu banyak yang terbuang sia-sia. tidak semangat. malas. dan tentu itu karena frekuensi membuka mushaf berkurang.

alquran adalah keberkahan. sesederhana itu kata kuncinya. tapi kalau sedang lemah, ya lemah. nasihat2 hanya seperti pepesan kosong.

hmm…proses itu berat dan melelahkan ya.

sama seperti taat.

demi taat pada tuhanmu, kamu harus rela menikam jantungmu sendiri setiap kali rindu pada yang belum saatnya dirindukan.

eh,

gimana…gimana?

 

Uncategorized

Saya pernah bilang, kan, kalau saya orangnya super random? Dulu, sedang asyik jaga toko, tiba-tiba saya ingin sekali menjelajahi lokalisasi di Pasar Kembang Jogja. Penasaran aja, bentukannya seperti apa, sih?

Malam itu juga, selepas jaga toko, sekitar jam sembilan, saya meminta teman saya yang juga gila, menemani saya ke tempat tercela itu.

nufi wardhanaSementara malam ini, sedang syahdu menikmati jeruk hangat di kafe yang kami jadikan basecamp untuk mengerjakan tesis, tiba-tiba saya ingin mencukur rambut seperti Nufi Wardhana.

Setelah memastikan itu bukan salah satu jenis qaza, sepulang dari kafe, saya menggunting rambut saya tanpa ragu. Besok baru dirapikan di salon.

Nah,PR saya semalaman ini adalah memikirkan alasan yang tepat, kalau-kalau mbak salon memasang tampang heran ketika saya bilang, ingin seperti gambar ini. Kan tidak mungkin kalau saya mengaku punya penyakit gila.

Uncategorized

siang tadi, saya ke fakultas hukum untuk sebuah misi kemanusiaan.

jika HB saya tidak rendah, harusnya tadi itu menjadi kali pertama saya melakukan aksi heroik bernama donor darah!

jujur, selama 27 tahun hidup di dunia yang fana ini, kebaikan yang paling saya takutkan adalah donor darah.

ketawain aja. monggo. tapi saya benar-benar takut jarum syuntique. hiyy!

tapi untungnya, saya juga mudah terhasut. melihat teman-teman yang sangat bersemangat ingin mendonor, saya jadi tertantang.

dengan nyali seadanya, ditemani lilis, saya ke acara donor yang mendebarkan itu. saya lemas genggg, haha. tapi alhamdulillah, setelah darah dicek, HB saya tidak memenuhi standar dan belum bisa mendonor. alasannya tentu karena terlalu banyak begadang dan kurang makanan bergizi..wkwk.

meskipun belum jadi mendonor, setidaknya sudah berani mencoba ya. insyaAllah niatnya sudah dicatat. tapi kira-kira dihapus lagi ga ya sama malaikat? lha wong batal donor malah kesenengan..hahahah. semoga malaikat tak merasa kena prank.

kata dewinta, cuma incem yang nge-prank malaikat!

Daily Life

pukul dua lebih sebelas malam, usai makan sepuluh tusuk sate padang,

ada dua alasan yang memaksa saya pulang ke sini. pertama, saya tidak bisa tidur karena siang tadi membeli secangkir (segelas plastik, ding) coffee latte di perpus. kedua, saya telah lancang menyantumkan blogging sebagai hobi saya di profil badan pengurus harian organisasi yang saya ikuti.

bisa-bisanya mengaku hobi blogging padahal blog-nya seperti tak ada tanda-tanda kehidupan. tak terurus!

ah, satu lagi. kalau tidak salah, saya juga menyantumkan ‘membaca’ di daftar hobi. eeh..monmaap, terakhir membaca kapan ya? hahaha, dasar peres!

dulu sih iya. memang suka menulis blog. juga suka membaca novel-novel sastra lama. tapi itu dulu. duluu sekali. sebelum instagram merusak hobi-hobi positif generasi penerus republik ini.

Uncategorized

saya dan teman-teman pengurus harian di organisasi kami,  mengalami hal yang menggelikan sekaligus bikin trauma.

pagi tadi, kami berencana mengadakan rapat perdana di masjid kampus. tapi ramai. biasalah, kajian ahad pagi pasti ramai. lalu pindah ke taman lingkar. ramai juga. banyak yang olahraga. akhirnya, disepakati, rapatnya di lobi fakultas hukum saja. Cukup dekat dengan masjid kampus.

lobinya cukup nyaman karena disediakan meja panjang dan beberapa korsi untuk kami yang berjumlah 12 orang.

sedang syahdu membahas strategi oprec, tiba-tiba dua orang satpam menghampiri kami.

singkat cerita, kami diusir (disuruh pindah ke kantin) dengan alasan keamanan. akhir-akhir ini, fakultas hukum sedang kurang kondusif, sering terjadi kehilangan, jelas beliau2.

oke. itu memang tugas mereka. sangat wajar. lagi pula, mereka hanya menjalankan tugas dari dekan yang memantau langsung dari cctv. dekan juara! hari minggu masih meluangkan waktu memantau kampus, meskipun via cctv!

tapi, seandainya kami tidak menggunakan dress code hitam, apa kami akan tetap dicurigai berasal dari sekte jahat yang akan merugikan fakultas hukum?

lucu sih. karena warna doang!

evaluasinya, kalau rapatnya bukan di masjid, jangan pernah memakai pakaian syar’i berwarna hitam.

islam phobia is shooo real, guyssss!

btw, ini yang ketiga kali saya merasa didiskriminasikan di kampus sediri gara-gara pakaian..hihi.

 

Uncategorized

“Anda harus menganggap ini rumah Anda sendiri. Oke, kalo di luar, silakan Anda pakai. Tapi ini rumah Anda!”

Sambil sibuk mengambil paper yang saya print di tas, saya mencoba memahami kalimat beliau.

“Saya ga tau kenapa sekarang boleh. Dulu ga boleh!” tatapan beliau sinis.

“Kita kan cuma melihat mata. Kita ga pernah tau siapa yang ada di balik itu.”

Ah, ternyata beliau mengomentari niqab saya.

Saya pikir beliau menangkap kegugupan saya dan mencoba membuat rileks dengan mengatakan saya harus menganggap kampus ini rumah sendiri.

Lidah saya yang memang sudah kelu sejak bertemu beliau 10 menit yang lalu, semakin beku seperti balok es. Sama sekali tak menyangka dosen yang saya idolakan, melontarkan kalimat tak enak seperti itu.

“Sekarang jumlahnya kecil. Saya masih bisa mengenali dari suara. Coba kalau besar? Bagaimana membedakannya? Dulu, kalau ujian, harus dibuka itu.”

Otak saya seketika berhenti berfungsi.

Yang dikritik tak hanya calon proposal saya.

“Bu, mungkin ini hanya terlihat seperti helaian kain aneh yang menutupi wajah. Tapi jika diminta melepasnya, saya merasa seperti ditelanjangi, Bu. Perasaan ini tidak dibuat-buat. Saya sendiri tak paham bagaimana perasaan itu muncul!”

Ingin sekali saya bersuara, memberi pengertian pada wanita yang saya anggap ibu di tanah orang ini.

Tapi nyatanya, saya hanya bergeming. Sedapat mungkin menahan air mata agar tidak jatuh.

Saya tidak menyalahkan beliau. Saya tahu komentar itu tak bermaksud menyakiti atau menghina saya. Beliau hanya tidak tau apa arti kain kecil ini bagi kami yang memakainya.

Saya mulai belajar untuk tidak membenci siapapun yang kurang nyaman dengan pakaian saya.

Pertama kali menerima perlakuan tidak adil dari salah satu dosen (ketika dikeluarkan dari kepanitiaan), iya, saya menyimpan dendam. Saya tak akan segan-segan melempar beliau ke danau UI jika hal itu legal dan halal.

Tapi kemudian saya sadar, mereka hanya tidak tahu.

Di kos, saya menangis sejadi-jadinya. Saya menagis bukan karena sedih diperlakukan seperti itu. Saya menangis karena sadar, Tuhan sedang menegur saya.

Apa benar secinta itu saya pada niqab saya?

Sekeras apa usaha yang telah saya lakukan agar pantas mengenakanya?

Sebesar apa perubahan pada diri saya, sebelum dan sesudah niqab menjadi bagian dari diri saya?

Otak saya melakukan scanning cepat atas jawaban pertanyaan-pertanyaan itu. Saya tercekat, lalu lagi-lagi tangis saya pecah.

Setelah sedikit tenang, saya mulai berpikir, ah, lewat kejadian siang tadi, lewat dosen yang saya kagumi, Tuhan hanya ingin menyampaikan kerinduannya.

Tuhan ingin menarik anak bandel yang akhir-akhir ini sering jauh. Jauh sekali. Sampai saya tak mengenali diri saya sendiri.

Ujian keistiqomahan itu memang sangat nyata. Dan lebih dahsyat dari yang dibayangkan. Dan pendosa ini tidak lulus! Sempat jatuh!

Memang benar, kadang Tuhan mengirimkan seseorang hanya untuk menjadi ujian.

Dan saya begitu sombong. Jarang sekali meminta diteguhkan dalam istiqomah. Terlalu percaya diri!

Beruntung, Tuhan Maha Baik. Ada saja caraNya menjaga anak bandel ini agar tidak tergelincir lebih lebih jauh.

Salah satunya ya dengan kejadian pagi ini.

Saya disadarkan dengan cara yang unik!

See, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan mahlukNya.

Don’t cry ya, big girl! Ada Allah kok!

Oh, satu lagi, jangan lelah meminta istiqomah!