Uncategorized

“Anda harus menganggap ini rumah Anda sendiri. Oke, kalo di luar, silakan Anda pakai. Tapi ini rumah Anda.”

Sambil sibuk mengambil paper yang saya print di tas, saya mencoba memahami maksud beliau.

“Saya ga tau kenapa sekarang boleh. Dulu ga boleh. Karena kan kita cuma melihat mata. Kita ga pernah tau siapa yang ada di balik itu.” Ah, ternyata beliau mengomentari niqab saya. Saya pikir beliau menangkap kegugupan saya dan ingin mencoba membuat rileks dengan mengatakan saya harus menganggap kampus ini rumah sendiri.

Lidah saya yang memang sudah kelu sejak bertemu beliau 10 menit yang lalu, semakin membeku. Sama sekali tak menyangka dosen yang saya idolakan melontarkan kalimat semacam itu.

“Sekarang jumlahnya kecil. Saya masih bisa mengenali dari suara. Coba kalau besar? Bagaimana membedakannya? Dulu, kalau ujian, harus dibuka itu.”

Blank! Otak saya berhenti berfungsi.

Yang dikritik tak hanya calon proposal saya.

Ya, mungkin ini hanya terlihat seperti helaian kain aneh yang menutupi wajah. Tapi jika diminta melepasnya, saya merasa seperti telanjang. Entah bagaimana perasaan itu muncul.

Saya tidak menyalahkan beliau. Saya tahu komentar itu tak bermaksud menyakiti atau menghina saya. Beliau hanya tidak tau apa arti kain kecil ini bagi kami yang memakainya.

Ya, meskipun hati seperti ditusuk sembilu, saya tidak menyalahkan beliau. Saya belajar tidak membenci siapapun yang kurang nyaman dengan pakaian saya. Pertama kali menerima perlakuan tidak adil dari salah satu dosen, iya, saya menyimpan dendam. Tapi kemudian saya sadar, mereka hanya tidak tahu.

Saya melihat ini sebagai teguran Tuhan pada saya. Saya menangis sejadi-jadinya karena diperlakukan seperti itu, apa benar secinta itu saya pada niqab saya? Sekeras apa usaha saya memantaskan diri mengenakanya? Sebesar apa perubahan sebelum dan sesudah ia menjadi bagian dari diri saya? Saya tercekat.

Saya rasa, lewat kejadian tadi siang, lewat dosen yang saya kagumi, Tuhan ingin menyampaikan kerinduannya. Tuhan ingin menarik anak bandel yang akhir-akhir ini sering jauh.

Ya, ujian keistoqomahan itu memang nyata, dan saya sempat tergelincir. Saya bahkan tidak mengenali diri saya sendiri. Beruntung, Tuhan saya Maha Baik. Tak bosan-bosannya menjaga saya.

Terus berproses ya, Nduk. Tuhan sayang kamu. Dia tidak akan meninggalkan kamu sendiri. Jangan sedih 🙂

 

Advertisements
Uncategorized

Ini kepulangan saya yang paling awal dalam delapan tahun ini. Biasanya, baru mudik beberapa hari sebelum hari raya. Kegiatan di Depok tak seheboh di Yogyakarta.

Ketika mendarat di Lombok, saya disambut matahari terbenam yang sangat saya kenal. Dengan bis bandara, saya melanjutkan perjalanan menuju kota kecil saya di timur pulau.

Di samping saya, ada kak Didik yang merupakan senior di YRC (Youth Rinjani Club), organisasi pencinta alam ketika SMA. Ah, betapa pulau ini bahkan lebih kecil dari daun kelor.

Setelah lulus SMA, pertama kali jumpa kak Didik lagi ketika ia sedang mencumbui tebing-tebing cadas pantai selatan yang menjadi taman bermain para pemanjat di Yogyakarta. Rupanya ia juga konsisten mencintai ketinggian.

Tahun lalu, lagi-lagi kami tak sengaja bertemu di toserba 24 jam kota kami. Saya sapa, ia kebingungan meskipun saya sudah menyebutkan nama. Mungkin ia tak pernah menyangka adiknya yang tomboy ini sekarang jadi “ninja”.

Sesekali, kak Didik memandang ke arah saya. Mungkin tau, tapi ragu. Gadis bercadar di mana-mana hampir susah dibedakan. Mau basa basi, pasti tak enak. Aura “ninja” memang membuat para pria segan..haha.

Hingga di pemberhentian terakhir, saya tetap tak menyapa. Saya sedang malas bercerita panjang lebar dan ingin menikmati senja dengan khidmat. Sendiri.

You know what? Inilah freedom yang sesungguhnya. I only talk when I want to and you only see what I choose to show you..hahaha.

Anyway, anggap saja kita sedang menikmati senja di ketinggian seperti beberapa tahun silam.

Biarkan kata-kata lebur dalam jingga langit sore dan angin pantai selatan yang membelai wajah-wajah masa muda kita.

Senja di pulauku 🙂

Uncategorized

baru saja sedikit rileks buka timeline karena drama politik dan agama di negeri tercinta sudah tidak sepanas masa-masa pilkada ibukota, drama lainnya muncul lagi.

kali ini lebih spesifik di kalangan akhwat bercadar. mengenai selfie.

ada yang woles mengunggah foto atau video diri, ada pula yang sangat keras menentang karena dianggap tidak pantas dilakukan oleh akhwat bercadar. tujuan cadar itu sendiri kan untuk menutupi diri, kata mereka.

puncaknya, isu ini semakin memanas ketika video-video seorang akhwat yang memang gemar mengupload foto dan videonya untuk keperluan bisnis (butik), disalah gunakan oleh oknum tertentu. video-video beliau di-upload ke youtube dengan judul yang bikin shock. seperti judul-judul film dewasa.

tanpa ambil tempo, langsung saya kabari si teteh yang sedang jadi perbincangan. si teteh ternyata sudah tahu sejak awal video tersebut diunggah. biasalah persaingan bisnis, ujar si teteh.

balas-balasan argumen antara kelompok yang pro dan kontra pun semakin heboh. saya sendiri hanya memantau. saya bukan tipe orang yang memaksakan sesuatu yang saya anggap benar. yang mau upload foto atau video monggo, toh kalau tidak nyaman melihat, tinggal di-unfollow.

ini sama dengan perihal musik, tahlilan, maulid nabi, dan semacamnya kan? wes to. jangan ngerasa paling benar sendiri. kencengin ibadah, banyakin istigfar, dan saling mendoakan aja.

Uncategorized

Baru sempat nengokin blog. Dua bulan ini kerjaan padat sampai-sampai badan ngedrop. Sempat sembuh tapi sakit lagi karena begadang lagi.

Alhamdulillah sekarang sudah beraktivitas seperti biasa. Kerjaan, kuliah, organisasi…lancar jaya. Nikmat sehat itu memang luar biasa.

Minggu depan UTS. Satu bulan kemudian UAS. Lalu liburan, dan…pulang kampung!! Baim kangen rumah ya Allah 😦

Uncategorized

Empat hari ini, tenggorokan saya radang. Sakit sekali kalau makan. Jangankan makan, nelan ludah saja butuh perjuangan.

Kemarin nyerinya sempat berkurang setelah menelan beberapa butir obat dan vitamin dari klinik kampus. Demam saya juga hilang. Jadilah semalam selepas hujan reda, pukul sembilan, saya ngacir ke bakul sate madura di ujung jalan H. Amat. Bosan juga makan bubur ayam terus.

Saat melintasi pondok Al-Hikam, karangan bunga yg memamerkan nama orang2 besar dan instansi2 terkemuka berjejer di kiri kanan jalan. Saya perhatikan lebih cermat, ternyata ucapan bela sungkawa untuk Kh. Hasyim Muzadi.

Pemakamannya sore tadi, tapi lorong masih terasa lebih ramai dari biasanya. Melihat karangan bunga yg berbaris berkilo-kilo meter, saya baru ngeh, beliau orang yg sangat penting. Hadeh, kemana aja sih neng?

Uncategorized

Banyak bertemu orang2 baik di kota ini. Orang2 yang haus akan ilmu. Orang2 yang insyaallah menjadi teman yg baik selama berproses. 

Terima kasih ya Rabb. Kau kabulkan salah satu doaku. Dikelilingi orang2 baik yg dapat ku teladani. Masyaallah 🙂

Uncategorized

51 menit sebelum kelas siang dimulai. Saya belum mandi. Kopi masih separo. Saya lanjut baca novel yang lama saya beli. Belum tuntas juga. Adzan dzuhur berkumandang. Saya harus bergegas. Tapi malah ambil hape, ngetik blog. Lalu tiba2 rindu.